Perilaku Kolektif
Apa Itu Perilaku
Kolektif?
A.
Pengertian
Perilaku Kolektif
Menurut
kamus besar bahasa Indonesia, kolektif merupakan suatu hal yang bersifat
gabungan atau secara bersama-sama. Secara sederhana, kolektif dapat diartikan
sebagai segala hal atau tindakan yang dilakukan sekelompok orang secara
bersama-sama.
Menurut
Horton dan Hunt, perilaku kolektif adalah perilaku yang dilakukan oleh sejumlah
orang secara bersama-sama, tidak bersifat rutin dan merupakan tanggapan
terhadap rangsangan tertentu. Lebih khusus lagi, perilaku kolektif mengacu pada
perilaku yang relatif spontan dan relatif tidak terstruktur oleh sejumlah besar
individu yang bertindak dengan atau dipengaruhi oleh individu lain.
Secara
sederhana perilaku kolektif dapat didefinisikan cara
berfikir, berperasaan, bertindak sekumpulan individu yang secara relatif
bersifat spontan dan tidak terstruktur yang berkembang dalam suatu kelompok
atau suatu populasi sebagai akibat dari saling stimulasi antar individu.
Karena sering kali karakteristik perilaku kolektif yang bersifat spontan dan
tidak terstruktur maka perilaku itu dapat dianggap sebagai pelanggaran norma
sosial.
B. Bentuk dan Ciri Perilaku Kolektif
Ada beberapa bentuk dari perilaku
kolektif antara lain:
1. Kerumunan
(Crowds)
Ada beberapa bentuk kerumunan yaitu
:
a) Inconvenient aggregation
atau kumpulan yang kurang menyenangkan, meupakan kerumunan dari orang-orang
yang ingin berusaha menggunakan fasilitas yang sama. Dalam kerumunan ini
kehadiran orang-orang yang lain dianggap sebagai suatu kalangan terhadap
tercapainya suatu tujuan seseorang dan akan berakibat terjadinya saling
bermusuhan.
b) Panic crowds atau kerumunan
orang-orang yang sedang dalam keadaan panik. Dorongan individu-individu dalam
kerumunan ini cenderung untuk mempertinggi rasa panik, menunjukan suatu
tanggapan yang bersifat irasional, dan menyebabkan suatu rintangan yang positif
dari bahaya yang umum.
c) Spectator crowds atau kerumunan
penonton, merupakan kerumunan dari orang-orang yang ingin melihat suatu
kejadian tertentu.
d) Acting mobs, yaitu kerumunan yang
bertindak secara emosional. Kerumunan ini bertujuan untuk mencapai
tujuan-tujuannya dengan jalan menunjukan kekuatan-kekuatan fisik yang
berlawanan dengan norma-norma yang berlaku dalam masyaraka. Pada umumnya
orang-orang bertindak secara emosional karena merasa tidak adanya keadilan.
e) Immoral crowds atau
kerumunan-keruman yang bersifat imoral. Tipe ini hampir sama dengan
kelompok-kelompok yang bersifat eksporesif, akan tetapi bertentangan dengan
norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
2. Rumor
Rumor
dalah suatu informasi yang tidak dapat dibuktikan, dan dikomunikasikan yang
muncul dari satu orang kepada orang lain (isu sosial). Umumnya terjadi pada
situasi dimana orang seringkali kekurangan informasi untuk membuat interpretasi
yang lebih komprehensif. Media yang digunakan umumnya adalah telepon.
3. Opini
Publik
Opini
Publik dalah sekelompok orang yang memiliki pendapat beda mengenai sesuatu hal
dalam masyarakat. Dalam opini publik ini antara kelompok masyarakat terjadi
perbedaan pandangan / perspektif. Konflik bisa sangat potensial terjadi pada
masyarakat yang kurang memahami akan masalah yang menjadi interes dalam
masayarakat tersebut.
4. Propaganda
Propaganda adalah
informasi atau pandangan yang sengaja digunakan untuk menyampaikan atau
membentuk opini publik. Biasanya diberikan oleh sekelompok orang, organisasi,
atau masyarakat yang ingin tercapai tujuannya.
C. Faktor-Faktor Terjadinya Perilaku Kolektif
Terdapat
beberapa penyebab terjadinya perilaku kolektif. Meneliti faktor penyebab
perilaku kolektif harus menggabungkan beberapa elemen pcnting dalam perilaku
untuk dirangkai menjadi sebuah tahapan yang digunakan scbagai analisa akhir
dalam pola tertentu. Smelser memetakan cnam faktor yang menjadi penyebab perilaku
kolektif, yaitu :
1. Structural conduciveness
(pengkondusifan strukutur sosial) adalah sebuah pemaksaan atas sebuah pola atau
struktur baru dari pola atau struktur yang lama sebagai alat untuk melaksanakan
tujuan tertentu penguasa.
2. Structural strain (ketegangan
pada struktur sosial) adalah sebuah kcadaan di mana beberapa struktur sosial
yang telah ada baik keberadaannya didasarkan atas agama. pendidikan. kekayaan,
ataupun kcturunan tidak lagi diakomodasikan pada berbagai kepentingannya.
3. Growth and spread of a generalized belief
(muncul dan bcrkembangnya sebuah kepercayaan umum) adalah sebuah kondisi di
mana ada satu nilai sentral atau tujuan utama dalam Masyarakat yang terbentuk
ketika nilai-nilai tradisional hancur beserta tujuan-tujuannya. Satu nilai sentral
yang kemudian dianut sccara bersama-sama menjadi sebuah kesadaran dalam masyarakat
dan sangat berpengaruh terhadap terjadinya sebuah gcrakan pemberontakan
bersama.
4. Precipitating factor
(pencetus faktor) adalah suatu kondisi di mana tatanan sosial telah ambruk yang
dibarengi dengan memudamya nilai-nilai sosial.
5. Mobilization of participants for action
(mobilisasi massa untuk melakukan tindakan) adalah sebuah pola pengumpulan
rnassa melalui konsolidasi ikatan-ikatan yang ada dalam Masyarakat.
Ikatan-ikatan yang ada dalam Masyarakat ini dapat digerakkan untuk melakukan
agitasi, konsolidasi yang pada akhimya dapat digerakkan untuk melakukan
pemberontakkan.
6. The operation of social control
(pelaksanaan kontrol sosial) adalah memudarnya kontrol terhadap Masyarakat yang
dilakukan oleh pihak penguasa untuk mengantisipasi terjadinya sebuah gerakkan
perlawanan oleh Masyarakat. Menurut Smelser tujuan analisis ini antara lain
untuk membedakan dua tipe dari kontrol sosial yaitu untuk mencegah terjadinya
pemberontakan bersama dan untuk mengendalikan massa ketika telah terjadi
pemberontakan bersama.
D. Bentuk dan Contoh Penyimpangan Perilaku Kolektif
Bentuk
penyimpangan sosial tersebut dapat dihasilkan dari adanya pergaulan atau
pertemanan sekelompok orang yang menimbulkan solidaritas antar anggotanya
sehingga mau tidak mau terkadang harus ikut dalam tindak kenakalan atau
kejahatan kelompok. Bentuk penyimpangan kolektif:
1. Tindak
Kenakalan
Suatu
kelompok yang didonimasi oleh orang-orang yang nakal umumnya suka melakukan
sesuatu hal yang dianggap berani dan keren walaupun bagi masyarakat umum
tindakan trsebut adalah bodoh, tidak berguna dan mengganggu.
Contoh
penyimpangan kenakalan bersama yaitu seperti aksi kebut-kebutan di jalan,
mendirikan genk yang suka onar, mengoda dan mengganggu cewek yang melintas,
corat-coret tembok orang dan lain sebagainya.
2. Tawuran
/ Perkelahian Antar Kelompok
Pertemuan
antara dua atau lebih kelompok yang sama-sama nakal atau kurang berpendidikan
mampu menimbulkan perkelahian di antara mereka di tempat umum sehingga orang
lain yang tidak bersalah banyak menjadi korban.
Contohnya
adalah tawuran anak sma 70 dengan anak sma 6, tawuran penduduk a dan b, dan masih
banyak lagi.
3. Tindak
Kejahatan Berkelompok
Jenis
ini suka melakukan tindak kejahatan baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara
terbuka. Jenis penyimpangan ini bisa bertindak sadis dalam melakukan tindak
kejahatannya dengan tidak segan melukai hingga membunuh korbannya.
Contohnya
ialah perampok, perompak, bajing loncat, penjajah, grup koruptor, sindikat
curanmor dan lain-lain.
4. Penyimpangan
Budaya
Penyimpangan
kebudayaan adalah suatu bentuk ketidakmampuan seseorang menyerap budaya yang
berlaku sehingga bertentangan dengan budaya yang ada di masyarakat.
Contoh:
merayakan hari-hari besar negara lain di lingkungan tempat tinggal sekitar
sendirian, syarat mas kawin yang tinggi, membuat batas atau hijab antara
laki-laki dengan wanita pada acara resepsi pernikahan, dan masih banyak lagi.
Referensi
FPPSI-UM.
“Perilaku Kolektif Di Rumah Belajar, Malang.” UM The Learning University,
Mei 2016. http://fppsi.um.ac.id/?p=1454.
Hanurawan,
F. Psikologi Sosial. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010.
Hedriyanto,
Achmad Reza. “Konstruksi Sosial Perubahan Perilaku Suporter Persebaya.” Universitas
Airlangga (2018). http://repository.unair.ac.id/id/eprint/68285.
Komsiah,
Siti. Modul Pengantar Sosiologi. Jakarta: Universitas Mercu Buana, 2010.
Rochadi,
AF Sigit. Perilaku Kolektif Dan Gerakan Sosial. CV. Rasi Terbit, 2020.
https://books.google.co.id/books?hl=en&lr=&id=Lr_8DwAAQBAJ&oi=fnd&pg=PA1&dq=perilaku+kolektif&ots=kW0DqCfbmw&sig=_SDLsCTO13F8rCsS5vaTo7pHeYs&redir_esc=y#v=onepage&q=perilaku%20kolektif&f=false.
Wineries,
Agus. “Pengertian Perilaku Kolektif.” Ilmu Administrasi Negara, November
30, 2013.
http://agus93winasis.blogspot.com/2013/11/pengertian-perilaku-kolektif.html.
“Perilaku
Kolektif.” Communication Learning, 2016.
http://communicationlearning17.blogspot.com/2016/11/perilaku-kolektif.html.
Comments
Post a Comment